Ancaman Trump Picu Sorotan Kekuatan Militer Amerika Latin

Ancaman Trump Picu Sorotan Kekuatan Militer Amerika Latin

TRIBUNNEWS.COM – Kekuatan militer negara-negara Amerika Latin kembali menjadi sorotan tajam.

Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer skala besar di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro akhir pekan lalu.

Aksi tersebut memicu keguncangan politik regional dan menghidupkan kembali kekhawatiran lama tentang potensi intervensi Washington di kawasan.

Pada Senin (5/1/2026), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memperluas tekanannya dengan mengancam Kolombia, Kuba, dan Meksiko.

Ia menyatakan siap mengambil tindakan militer apabila pemerintah negara-negara tersebut tidak “berbenah diri”, dengan dalih memerangi perdagangan narkoba dan menjaga kepentingan keamanan AS di Belahan Barat.

Pernyataan itu langsung meningkatkan ketegangan diplomatik dan keamanan di Amerika Latin.

Al Jazeera melaporkan, secara konvensional kekuatan militer Amerika Latin berada jauh di bawah Amerika Serikat.

AS saat ini menempati peringkat pertama dunia dalam Indeks Kekuatan Militer Global dengan anggaran pertahanan mencapai sekitar 895 miliar dolar AS pada 2025—lebih besar dari total gabungan anggaran militer 10 negara terbesar berikutnya.

Di tingkat regional, Brasil menjadi negara dengan kekuatan militer paling signifikan di Amerika Latin dan menempati peringkat ke-11 dunia.

Sementara itu, Meksiko berada di posisi ke-32, Kolombia ke-46, Venezuela ke-50, dan Kuba ke-67.
Perbedaan tersebut terlihat jelas dalam hampir semua indikator utama, termasuk jumlah personel aktif, kekuatan udara, persenjataan berat, aset angkatan laut, serta belanja pertahanan.

Amerika Serikat memiliki lebih dari 1,3 juta personel militer aktif dan lebih dari 13.000 pesawat militer.

Sebaliknya, Meksiko memiliki sekitar 412.000 personel aktif dengan 433 pesawat.

Kolombia memiliki sekitar 293.000 personel dan 436 pesawat.

Venezuela memiliki 109.000 personel dan 229 pesawat.

Sementara Kuba hanya memiliki sekitar 45.500 personel dan 31 pesawat militer.

Dalam hal persenjataan berat, kesenjangan semakin mencolok.

AS memiliki ribuan tank tempur dan ratusan aset angkatan laut.

Sebaliknya, sebagian besar negara Amerika Latin memiliki jumlah tank terbatas atau bahkan nol, serta armada laut yang jauh lebih kecil.

Dalam konteks perang konvensional yang melibatkan tank, jet tempur, dan kekuatan laut, AS mempertahankan keunggulan absolut.

Namun demikian, laporan tersebut mencatat bahwa satu-satunya aspek di mana beberapa negara Amerika Latin relatif menonjol adalah keberadaan pasukan paramiliter.

Pasukan ini beroperasi berdampingan dengan militer reguler dan sering mengandalkan perang asimetris serta taktik nonkonvensional.

Menurut Global Firepower, Kuba memiliki salah satu pasukan paramiliter terbesar di dunia dengan lebih dari 1,14 juta anggota.

Pasukan ini mencakup milisi negara dan komite pertahanan lingkungan.

Struktur tersebut dirancang sebagai cadangan sipil untuk menghadapi ancaman eksternal maupun krisis internal.

Di Venezuela, kelompok sipil bersenjata pro-pemerintah yang dikenal sebagai colectivos kerap dituduh berperan dalam menjaga kontrol politik dan menekan oposisi.

Meski bukan bagian resmi dari angkatan bersenjata, kelompok ini secara luas dianggap beroperasi dengan toleransi negara.

Hal itu terutama terlihat pada masa ketegangan politik.

Sementara itu, Kolombia memiliki sejarah panjang kelompok paramiliter sayap kanan yang awalnya dibentuk untuk melawan pemberontak kiri.

Meski secara resmi dibubarkan, banyak di antaranya berevolusi menjadi kelompok kriminal bersenjata.

Kelompok-kelompok tersebut masih aktif di wilayah pedesaan.

Di Meksiko, kartel narkoba bersenjata berat—seperti kelompok yang berakar dari mantan tentara—berfungsi sebagai pasukan paramiliter de facto.

Kelompok ini kerap menantang otoritas negara.

Al Jazeera mencatat, dinamika ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang campur tangan AS di Amerika Latin.

Sejarah itu mencakup “Perang Pisang” pada awal abad ke-20.

Termasuk pula operasi rahasia CIA selama Perang Dingin.

Selain itu, ada invasi Panama pada 1989.

Ketimpangan kekuatan militer yang ekstrem membuat sebagian besar negara Amerika Latin sulit menghadapi konfrontasi langsung dengan AS.

Meski demikian, faktor pasukan paramiliter dan perang asimetris tetap menjadi variabel penting dalam perhitungan keamanan kawasan.

Editor Video: Tama
Uploader: Wening Cahya Mahardika

Selengkapnya: https://www.tribunnews.com/internasional/7776016/kekuatan-militer-amerika-latin-disorot-buntut-ancaman-trump-ke-kolombia-kuba-dan-meksiko?page=all&s=paging_new

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

#beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #kabarterkini #DonaldTrump #NicolásMaduro #KonflikBarat
#AmerikaSerikat #Venezuela #Geopolitik #AmerikaLatin #BeritaInternasional #PolitikDunia #NewsGlobal #Kolombia #Kuba #Meksiko

社会・政治ニュース動画カテゴリの最新記事